Ketika Mental Diuji

by - February 21, 2014

Kali ini agak sedikit curhat ya, hehehe..


 Ketika uji mental bukan lagi berupa gojlokan dari kakak tingkat sewaktu MOS/OSPEK, ataupun teriakan serta bentakan-bentakan garang dari senior-senior sewaktu latihan fisik di PASKIBRA. Bukan, bukan lagi semua itu. Uji mental semacam itu sudah sering kudapat, dan berhasil kulalui tanpa sedikitpun sakit di hati. Pada saat itu aku merasa kuat, merasa tahan banting, merasa bahwa uji mental seperti ini 1000x pun aku mampu menjalani. Itulah kecongkakanku, merasa bangga aku bisa tegar melewati "uji mental" yang diberikan sedangkan teman-teman perempuan yang lain kebanyakan menangis dan tidak tahan. Semakin dilihat kita tegar, semakin kita akan dihantam dengan ujian-ujian lainnya. Aku tak pernah gugur sekali pun pada saat itu. Ya, pada saat itu. Tapi saat ini, hari ini, aku merasa aku lemah dan kalah.

 Saat kita sudah terjun langsung ke dunia, itulah ujian yang sebenarnya. That's the real task, in real life. Hanya dengan perkataan seorang yang baru kukenal 5 menit, dapat membuatku down. Aku merasa beruntung karena sebelumnya pernah di caci maki dengan jarak 2 cm dari batang hidungku saat latihan fisik, karena membuatku tidak meneteskan air mata saat kejadian hari ini terjadi. Kata-kata yang terlontar dari orang yang baru kukenal, yang memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi diatasku ini masih terngiang. Aneh rasanya, aku yang selama ini 'kebal' atas apa kata orang akhirnya terjerungkup juga.
Aku merasa seperti ini karena aku memang merasa apa yang dia katakan benar. Semua kata-kata yang dia ucapkan dengan manisnya justru menyayat hatiku. Bingung harus berbuat apa, ingin kubalas kata-katanya namun tak kulakukan. Aku merasa memang itu kenyataannya, apa yang kulakukan itu memang jauh dari sempurna. Malu sekali rasanya, so ashamed with my self. What should I do?

 Dengan usaha maksimal yang sudah kuberikan pada waktu itu, i gave everything i could. Apa yang kupunya saat ini sudah kulakukan, dan aku tau itu memang jauh dari level baik nya dia. Itulah perbedaan kan? Tidak semua orang bisa menghargai usaha orang lain, karena mereka tidak melakukannya sendiri. Memang lebih mudah untuk mengkritik dan berkata ini itu daripada praktek sendiri. That's people, even i do that sometimes. And sometimes, we hurt other people's feeling without knowing them :(

 Berusaha tegar, bersikap biasa saja dan memberikan senyuman lebar sudah kulakukan. Namun sepanjang jalan pulang, hati kecil ini berkata apakah aku harus berhenti disini untuk mengejar mimpiku? Ataukah aku harus membuktikan padanya bahwa aku bisa lebih baik? Disinilah titik puncak dari sebuah uji mental. Ketika seseorang membuat keputusan antara maju atau mundur, terus berjuang atau menyerah? Aku tidak selemah itu, aku tak boleh dan tak akan mundur ataupun menyerah disini. Ini adalah sebuah pukulan keras bagiku, dan aku tak boleh berhenti mengejar mimpi. Aku harus yakin aku bisa, aku pasti bisa. Dengan kemauan dan perjuangan keras, it's gonna be worth it. Nothing's worth having comes easy right? Itu intinya.

 Bismillah, semoga aku bisa selalu tegar dan maju terus. Ini pelajaran berharga, uji mental yang sesungguhnya. Thank you mba D, you really made my day worth it :)

You May Also Like

0 comments